Indonesia Hasilkan 185 Ribu Ton Sampah Setiap Hari, Polusi atau Potensi?

Zyklus Indonesia

6 September 2021

gambar

Zyklus - Sampah adalah masalah bagi setiap orang, karena selalu dihasilkan setiap harinya dan sepanjang tahun. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa pada 2020, total produksi sampah nasional telah mencapai 67,8 juta ton. Dengan jumlah tersebut, berarti ada sekitar 185.753 ton sampah yang setiap hari dihasilkan oleh 270 juta penduduk Indonesia. Artinya, setiap orang memproduksi sampah sebanyak 0,68 kilogram per hari.

Siti Nurbaya, Menteri LHK dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2021 mengatakan, sampah masih akan terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan gaya hidup dan kesejahteraan yang makin meningkat. Mengutip data Badan Pusat Statistik 2020, katanya, sektor pengadaan air, pengelolaan sampah dan limbah tumbuh sangat tinggi mencapai 6,04%. Dengan kata lain, sektor ini adalah usaha yang tahan banting selama pandemi. “Ini perwujudan prinsip pengelolaan sampah berkelanjutan waste to resource melalui ekonomi sirkular dan sampah menjadi sumber energi.”

Saat ini, sudah ada 2 provinsi dan 39 kota/kabupaten yang mengeluarkan kebijakan daerah terkait pelarangan dan pembatasan plastik sekali pakai. Pemerintah pusat, katanya, juga mengeluarkan tiga skema subsidi, dana alokasi khusus (DAK), dana insentif daerah (DID), dan bantuan biaya layanan pengolahan sampah (BPLS) untuk daerah-daerah ini. KLHK juga terbitkan beberapa peraturan sebagai dasar penerapan sampah sebagai bahan baku ekonomi, baik dari sisi sirkular maupun sumber energi.

Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, mengatakan bahwa KLHK sudah menindaklanjuti SKB tiga menteri dan kapolri melalui surat Menteri Perdagangan Nomor 482/2020 tentang pelaksanaan impor limbah non B3 sebagai bahan baku industri. “Tercatat 241 industri daur ulang plastik dan 52 industri daur ulang kertas yang diharapkan dapat mempercepat ketersediaan bahan baku industri dalam negeri sebagai pengganti bahan baku impor limbah non B3,” kata Vivien. KLHK, katanya, juga terus mendorong perusahaan penghasil sampah plastik agar bertanggung jawab atas sampahnya.

Bank Sampah

Aktivitas memilah sampah memang masih belum membudaya di masyarakat Indonesia. Karena itu, pemerintah pusat pun memperkuat komitmen dan peran aktif pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan sampah, termasuk menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi. Demikian dikatakan Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun KLHK Rosa Vivien Ratnawati dalam webinar menyambut HPSN 2021 di Jakarta, Kamis (18/2/2021).

Sebanyak 60 persen dari produksi sampah nasional berasal dari limbah rumah tangga. Karenanya, harus ada pengelolaan yang baik di rumah tangga. Salah satu solusinya adalah dengan bank sampah. "Kita juga akan mendorong partisipasi publik untuk ikut memilah sampah dan memperkuat program bank sampah.” Sejauh ini, KLHK mencatat bahwa kegiatan bank sampah baru berkontribusi sebesar 1,7 persen terhadap penanganan sampah nasional melalui lebih dari 10 ribu bank sampah. Meski kontribusi bank sampah dalam industri daur ulang juga masih rendah, perannya dalam mengedukasi masyarakat akan pengelolaan sampah juga tidak boleh dianggap enteng.

Potensi Pemanfaatan Sampah

Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK mengatakan, terbuka potensi pemanfaatan sampah jadi berbagai hal, seperti biomassa. “Ada potensi 20.000 ton per hari sampah kita jadi biomassa,” katanya. Sampah, katanya, bisa menjadi substitusi atau co-firing batubara di industri semen atau PLTU. Indonesia, tahun lalu baru saja memiliki tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) refuse-derived fuel (RDF) di Cilacap, Jawa Tengah. RDF merupakan teknologi pengolahan sampah melalui proses homogenizers yang membuat sampah berukuran lebih kecil. Hasil dari teknologi RDF ini memungkinkan sampah sumber energi pengganti batubara.

Selain RDF, potensi pengelolaan sampah untuk jadi pupuk cair dan pakan ternak. Novrizal menyebut, teknologi pengembangan black soldier fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Dengan maggot BSF, sampah organik bisa diurai jadi kompos lalu maggot bisa menjadi pakan ternak. “Ini jadi solusi sampah kita yang mayoritas organik, jadi potensi besar dengan teknologi BSF ini kita dapat pupuk cair dan maggot,” kata Novrizal. Dengan memanfaatkan teknologi BSF, katanya, sektor peternakan pun bisa diuntungkan dengan hasil maggot. Terlebih, katanya, sekitar 60% kebutuhan protein pakan unggas dari impor. Umumnya, peternak pakai kedelai dan tepung ikan untuk pemenuhan protein ternak.

Referensi: https://www.mongabay.co.id/2021/03/09/tantangan-sampah-di-masa-pandemi-bagaimana-potensi-pemanfataan/https://www.indonesia.go.id/kategori/indonesia-dalam-angka/2533/membenahi-tata-kelola-sampah-nasional

logo_zyklus

Cari tau berita terbaru

© 2021 Zyklus